Artikel Lainnya

Tuesday, November 15, 2016

Target 95 Ribu Rumah Swadaya, Terealisasi Hampir 97 Ribu

Target 95 Ribu Rumah Swadaya, Terealisasi Hampir 97 Ribu
Kementerian PUPR terus mendorong pelaksanaan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di daerah.

Hal itu untuk mendukung peluncuran Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Program yang juga dikenal dengan bedah rumah tersebut diharapkan mampu mendorong peran aktif masyarakat untuk membangun rumah secara swadaya.

"Salah satu program Kementerian PUPR dalam peluncuran Germas pada pertengahan November ini adalah Program BSPS atau bedah rumah," ujar Kasubdit Pelaksanaan Bantuan Stimulan Direktorat Rumah Swadaya Ditjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Bisma Staniarto di Jakarta, Jumat (11/11).

Bisma menerangkan, peluncuran Germas nantinya akan dilaksanakan secara serentak di sepuluh kota pada 15 November 2016 mendatang.

Kegiatan itu akan dipusatkan di Kabupaten Bantul, Yogyakarta dan dikoordinir Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Berdasarkan data yang dimiliki saat ini, dari target sebanyak 95 ribu rumah swadaya pada 2016, di lapangan ternyata sudah terealisasi 96.817 dan tersebar di seluruh kota-kota di Indonesia.

"Capaian program BSPS pada 2016 ini lebih tinggi dari target yang dicanangkan sebelumnya. Semoga bantuan rumah swadaya ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat sehingga rumahnya bisa lebih layak untuk dihuni," terangnya.

Bisma menambahkan, dalam pelaksanaan Program BSPS ini, pihaknya menekankan pada peran aktif masyarakat untuk memperbaiki rumahnya dengan dana bantuan stimulan yang diberikan oleh pemerintah.

Rumah yang mendapat bantuan bedah rumah tersebut setidaknya harus memenuhi prinsip dasar rumah sehat.

Yakni atap, lantai dan dindingnya menjadi lebih baik. Jika atapnya dari daun atau rumbia diganti seng atau genteng.

Apabila lantainya masih tanah bisa diplur semen serta dinding dari bilik bambu dibangun dengan bata atau batako.

"Program BSPS ini nanti akan kami sampaikan pada peluncuran Germas. Kami juga berharap emda dan perusahaan swasta bisa membantu masyarakat yang rumahnya tidak layak huni untuk memperoleh bantuan sejenis dari Pemda maupun via program CSR perusahaan,” pungkasnya. 

Monday, November 14, 2016

Ini Cara Dapat Bantuan Rumah Swadaya, Mau?

Ini Cara Dapat Bantuan Rumah Swadaya, Mau?
Punya tanah tapi dana terbatas untuk membangun rumah impian? Jangan khawatir, Anda bisa mengikuti program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

Ajukan saja proposal pembangunan rumah kepada pemerintah kota atau kabupaten, untuk disertakan ke dalam program BSPS ini. 

Tapi, tunggu dulu. Sebelum itu, pastikan Anda memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk dapat mengikuti program BSPS.

BSPS sendiri merupakan salah satu program Direktorat perumahan Swadaya Direktorat Jenderal Penyediaan perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR). 

Mekanisme penyalurannya diawali oleh usulan Bupati atau Wali Kota untuk menentukan calon penerima bantuan (CPB).

Adapun kriteria CPB yang dimaksud antara lain adalah warga negara Indonesia (WNI), merupakan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dan memiliki atau menguasai tanah.

Selain itu, belum memiliki rumah atau memiliki dan menghuni rumah tidak layak huni, dan belum pernah menerima bantuan perumahan dari pemerintah.

Setelah mendapatkan usulan Bupati/Wali Kota, proses dilanjutkan melalui rapat koordinassi (rakor) atau musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Selanjutnya baru dilakukan penetapan lokasi oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) perumahan Swadaya.

Kemudian Dirjen menunjuk satuan kerja (satker) dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang bertugas untuk sosialisasi dan rekrutmen serta pembekalan fasilitator.

Sebelum menentukan CPB, pemerintah kabupaten/kota wajib melakukan penyuluhan dan verifikasi terhadap mereka, membentuk Kelompok Penerima Bantuan (KPB), dan penetapan KPB.

Berikutnya, pemerintah kabupaten/kota akan melakukan penyusunan proposal yang terdiri dari survei toko penyedia bahan bangunan, dan kesepakatan pemilihan toko.

Selanjutnya, membuat kontrak dengan toko, penyusunan Rencana Penggunaan Dana (RPD), dan penyusunan Daftar Rencana Pembelian Bahan Bangunan (DRPB2).

Setelah itu Tim Teknis Kabupaten/Kota mulai melakukan verifikasi, pengesahan, dan pengusulan proposal untuk mendapatkan penetapan surat keputusan penerima bantuan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Mekanisme berikutnya adalah penyaluran BSPS oleh bank atau pos penyalur kepada MBR selaku pemesan bahan bangunan ke toko.

Kemudian toko tersebut diperiksa sebelum menyerahkan bahan bangunan ke MBR yang dilanjutkan dengan pembayaran via transfer ke rekening bank yang sudah ditentukan.

Terakhir, mulai membangun atau meningkatkan rumah swadaya. (Ridwan Aji Pitoko)

Monday, October 24, 2016

Sejuta Rumah, Program Sejuta Tantangan

Sejuta Rumah, Program Sejuta Tantangan
Regulasi pertanahan, Dukungan Pemda, dan Ketersediaan lahan tanah (land bank).

Perang terhadap backlog perumahan terus didengungkan pemerintah. Beragam komponen penguatan pun senantiasa diciptakan agar harapan memiliki hunian bagi rakyat Indonesia tidak lagi sekadar mimpi.

Masih segar dalam ingatan kita ketika satu tahun silam, pada akhir April, Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi menggulirkan Program Sejuta Rumah di Semarang. Momen itu dianggap sebagai jawaban atas penantian panjang rakyat Indonesia terhadap kepastian untuk memiliki tempat tinggal yang layak dan terjangkau.

“Mulai sekarang kita berusaha bersama untuk memberikan hunian bagi rakyat Indonesia,” sebut Jokowi pada kala itu.

Kesungguhan pemerintah era Jokowi dalam merumahkan rakyat memang layak diapresiasi tinggi. Program Sejuta Rumah dinilai sebagai terobosan terkini yang hadir dengan berbagai kemudahan, fasilitas dan kesiapan lebih matang sehingga peluang untuk merumahkan rakyat terutama kalangan MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) lebih terbuka lebar.

Program yang telah bergerak sejak tahun lalu ini membawa dampak cukup signifikan dalam upaya pemerintah menuntaskan pekerjaan rumah yang tidak kunjung selesai  selama kurang lebih 10 tahun terakhir ini. Tercatat, jumlah backlog hampir dipastikan tidak pernah menyusut tiap tahun, angkanya yang masih berkutat di sekitar 13 juta unit.

Namun, paska program sejuta rumah digulirkan, kabar gembira pun datang. Direktur Jenderal (Dirjen) Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanuddin dalam sebuah kesempatan menyatakan bahwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) backlog hunian mengalami penurunan menjadi 11,4 juta unit pada 2015.

“Seperti kita ketahui sebelumnya, backlog rumah bertengger di angka 13,5 juta unit,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.

Artinya jika dinominalkan, terjadi penurunan cukup drastis setelah program ini berjalan. Syarif pun menambahkan bahwa pemerintah—dalam hal ini Kementerian PUPR—sangat fokus mengawal program ini dengan tujuan besarnya, yakni terjadinya pengurangan backlog hingga sebesar 6,8 juta unit pada akhir 2019 nanti.

Untuk itu, Syarif menyampaikan bahwa tugas merumahkan masyarakat masih sangat panjang dan butuh perjuangan ekstra. Dari sisi pemerintah sebagai pemangku kepentingan utama, jelas Syarif, mereka dihadapkan pada tiga persoalan utama. Ketiga masalah tersebut adalah regulasi pertanahan, keterlibatan pemerintah daerah (Pemda), dan keterbatasan lahan.

 Mengutamakan Sinergi

Setelah berjalan melewati musim perdananya tahun lalu, pemerintah telah menghabiskan anggaran sebesar Rp5,6 triliun untuk program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang dampaknya membuat bunga KPR bersubsidi menjadi hanya 5% dari yang sebelumnya 7,25% selama masa tenor kreditnya. Meski hasilnya belum terlihat maksimal dan memuaskan, Syarif menilai ada optimisme yang tumbuh sehingga tahun ini anggaran untuk program perumahan meningkat hingga mencapai Rp20 triliun.

Dengan anggaran sebesar itu, tentunya serapan untuk membangun rumah hingga memenuhi target yang diinginkan akan semakin besar dari periode sebelumnya. Syarif sendiri tidak menampik bila Program Sejuta Rumah yang telah dimulai sejak tahun lalu belumlah sempurna. Karena itu, tahun ini pihaknya banyak melakukan percepatan dengan mengacu pada  pengalaman sebelumnya.

Nah, langkah selanjutnya
yang ditempuh adalah memetakan ragam masalah yang disinyalir bisa menjadi penghambat laju program ‘mulia’ ini. Untuk memecahkan tiga masalah utama tadi—regulasi pertanahan, dukungan Pemda, dan ketersediaan lahan tanah (land bank)— pemerintah terus menggenjot usaha mengakrabkan diri dengan beberapa instasi terkait seperti Kementeian Agraria/ Kepala BPN dan Kementerian Dalam Negeri.

“Kami terus melakukan kesepakatan pemahaman dengan teman-teman pendukung program ini sehingga bisa berjalan sesuai harapan. Jujur saja, masalah koordinasi yang kadang sedikit menghambat,” ungkap pria ramah ini.

Sebagai contoh, pemerintah pusat telah menginstruksikan soal pembebasan biaya IMB serta perizinan. Nyatanya, baru tiga daerah yang taat yakni Jambi, Palembang dan Surabaya. Dengan kata lain, sebenarnya yang terjadi di lapangan adalah kurang maksimalnya peran Pemda yang nilai Syarif merupakan ujung tombak dari kesuksesan progam ini. “Sinergi menjadi hal yang paling dibutuhkan untuk menyelaraskan program sejuta rumah ini,” tegasnya lagi.

Memang tidak mudah, ini diakui Syarif sendiri. Menurutnya, semua pihak harus mendukung. Namun, proses implementasinyalah yang membutuhkan waktu agak panjang.

Contohnya, belum lama ini Kementerian PUPR mendapatkan hibah berupa land bank dari Kementerian Keuangan seluas 360 hektar yang diperuntukkan untuk penyediaan rumah murah. Faktanya, lahan seluas itu belum bisa langsung digunakan lantaran masih harus mengurus perizinannya terlebih dulu.

Persoalan utama dari Program Sejuta Rumah ini memang lebih banyak berkutat di urusan land bank. Sekalipun disokong dengan aneka kemudahan terutama bagi calon konsumen alias pembeli seperti peringanan uang muka dari 5-10% menjadi 1%, kemudian besaran cicilan menjadi 5% dari yang sebelumnya 7,25% dengan tenor hingga 20 tahun (bahkan ada wacana sampai 30 tahun); namun bila lahan untuk membangunnya tidak ada, maka ini mirip istilah ‘pepesan kosong’.

Land bank pulalah yang membuat Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch (IPW) berteriak keras mengenai pengadaannya yang menjadi wajib hukumnya. Ali cukup konsisten menyuarakan soal land bank, bahkan sejak Kemenpera masih berdiri sendiri di bawah kepemimpinan Suharso Monoarfa dan penggantinya Djan Farid. Ali mengingatkan pemerintah akan pentingnya ketersediaan bank tanah bagi pengembangan rumah sederhana.

“Bank tanah mutlak disediakan jika misi merumahkan rakyat adalah prioritas,” ujar Ali saat wawancara dengan penulis lima tahun silam. Namun, sampai saat ini keberadaan bank tanah masih saja belum terwujud matang sehingga keyakinan menjalankan misi sejuta rumah agak terganggu.

Artinya, gerak cepat pemerintah melalui sejumlah kebijakan serta fasilitas penunjang Program Sejuta Rumah menjadi lambat, bahkan jalan di tempat, bila urusan bank tanah ini tidak segera dibenahi. Hasilnya, target memenuhi sedikitnya 1 juta unit rumah tiap tahunnya baru bisa tersedia 400-500.000 unit, sementara di sisi lain kebutuhan terus meningkat sebanyak 800.000 unit setiap tahun.

Sedikit mengulik sejarah, konsep bank tanah sebenarnya telah ada sejak zaman Orde Baru dengan istilah Kasiba (kavling siap bangun) atau Lisiba (lingkungan siap bangun). Konsep ini menjadi strategis karena nantinya tanah-tanah yang bisa dikembangkan untuk public housing dapat segera ‘diamankan’ pemerintah sehingga harga tanahnya tidak terus naik mengikuti mekanisme pasar.

Ali memang cukup vokal soal perumahan rakyat ini. Di matanya, program ini tidak dapat dilihat sebagai program jangka pendek yang tambal sulam. Harus ada road map jangka panjang termasuk isu strategis masalah bank tanah yang harus sesegera mungkin dibentuk. “Pemerintah idealnya membuat blue print yang secara jelas menggambarkan kebutuhan rumah rakyat ini sehingga ada target yang bisa dievaluasi bila tidak berjalan maksimal,” ujarnya gemas.

Terlepas dari segala macam hambatan dan tantangan yang menghadang, harus diakui baru kali ini pemerintah terlihat sangat serius menganggap bahwa merumahkan rakyat adalah misi penting yang tak bisa lagi dinanti-nanti. Apresiasi patut diberikan atas sikap tanggung jawab pemerintah.

Dengan kebutuhan rumah yang semakin bertambah, sementara penyediaannya masih tertatih-tatih, pemerintah harus benar-benar serius dan fokus menggalang keberhasilan Program Sejuta Rumah ini. Rumit memang layaknya benang kusut. Tapi selama semanagat sinergi terus terjaga, bukan tidak mungkin suram dan resah bisa terganti dengan senyum sumringah.*


Media Properti

Ini Cara Benar Memilih Profil Tank Asli

Dengan kualitas prima dan harga terjangkau, Profil Tank sukses menjadi tandon terbaik di Indonesia. Bahan baku serta komposisi yang pas menjamin produknya aman dan nyaman bagi kesehatan.

Ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami, memilih tandon berkualitas sebagai tempat penampungan air dan bahan makanan saat ini ternyata bukan hal mudah. Dalam beberapa kesempatan, orang-orang sudah membeli produk tandon atau tangki air bermerek orisinal ternyata masih kerap mengeluhkan kebocoran. Galih, salah satu karib saya semasa kuliah pun mengadukan hal serupa.

“Bro, kenapa ya tandon gue kok sering bocor? Padahal gue sudah beli yang asli,” kesahnya beberapa minggu silam. Redaksi pun berhasrat mencari tahu mengapa kebocoran itu bisa terjadi pada merek-merek tandon orisinal.

Kami pun berusaha mengulik informasi ini kepada salah satu pemilik merek, yakni Profil Tank. Alhasil, kami mendapatkan jawabannya dari Anthony Mahendra, Direktur Utama Profil Tank.

Saat ini, kata Anthony, memang banyak beredar produk menyerupai atau menggunakan merek tandon Profil di pasaran. Produk-produk palsu tersebut memanfaatkan merek tandon terkenal ini agar bisa laris terjual.

Sayangnya, ‘pendomplengan merek’ ini tidak dibarengi dengan kualitas yang sepadan, atau dalam kata lain kuliatasnya abal-abal. Anthony jelas kecewa dengan produsen tandon imitasi tersebut. Makanya, ia menyarankan kepada konsumen agar lebih berhati-hati lagi ketika ingin membeli tandon di pasaran. Harus dicek terlebih dulu asli atau palsunya. Profil-Tank-Stainless

"Merek Profil yang asli selalu menggunakan logo ‘P’ timbul atau tulisan ‘Profil Tank’ timbul di bodi tandonnya,” urainya menjelaskan cara membedakan produk Profil asli ataupun palsu.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa produk tandon Profil asli memiliki kualitas prima yang tahan lama. Bahan baku plastik murni serta komposisinya yang pas memastikan presisi ketebalan dan kepadatannya sangat sempurna sehingga dijamin aman ketika digunakan.

Selain itu, tandon Profil asli juga memiliki garansi after-sales service hingga 15 tahun. “Jadi rasanya mustahil jika produk Profil yang asli masih mengalami kebocoran,” tegasnya.

Harga Terjangkau
Anthony menjabarkan, produk Profil Tank saat ini terdiri menjadi dua jenis: tandon air plastik dan tandon air stainless steel. Keduanya memiliki beberapa varian, mulai dari ukuran yang terkecil hingga yang paling besar—tergantung kebutuhan konsumen.

Sementara dalam pembuatannya, mereka menggunakan teknologi terbaru yang menghasilkan lapisan penahan sinar ultraviolet untuk menghambat pertumbuhan lumut dan bakteri di dalam. Dengan begitu, imbuhnya, produk-produk tandon Profil Tank menjadi gampang dibersihkan dan aman bagi kesehatan.

“Teknologi yang kami gunakan adalah satu-satunya dan pertama di Indonesia. Tidak ada merek lain yang memakai teknologi ini,” klaim Anthony.

Dari sisi harga, ia mengungkapkan bahwa produknya itu salah satu tandon dengan pricing yang paling terjangkau di pasaran. Cukup kompetitif. Seluruh lapisan masyarakat pun bisa menikmati produk tandon dengan kualitas mumpuni ini.

Selain itu, Profil Tank juga sangat mudah ditemukan. Barangnya tersebar di hampir seluruh toko bahan bangunan di Tanah Air. “Sudah menjadi visi kami untuk semakin dekat dengan konsumen. Karena itu, kami selalu push peredarannya hingga bisa tersedia di semua toko bangunan Indonesia,” tambahnya.

Dengan semua keunggulan tersebut, tak heran bila mereka sukses meraih penghargaan Top Product Property 2016 di kategori tangki air. Kini beriringan dengan diraihnya penghargaan bergengsi tersebut, Anthony berharap produk besutannya itu akan semakin dipercaya konsumen Tanah Air. “Sebagai wujud komitmen perusahaan, kami akan selalu memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” tutupnya.*


Media Properti

Mortar Utama, Adukan Semen Jadi Lebih Pasti

Mortar Utama, Adukan Semen Jadi Lebih Pasti
Mortar Utama juga menyediakan solusi layanan yang komprehensif seputar produk dan aplikasinya. Secara umum perkembangan bisnis semen instan sepanjang 2015 menunjukan tren yang cukup menggembirakan. Penetrasi internet memudahkan pemain-pemain di bisnis ini memberikan edukasi kepada masyarakat.

Di sisi lain, industri konstruksi di Indonesia juga semakin membutuhkan bahan bangunan dengan kualitas yang lebih baik dan modern. Kepraktisan, kualitas, inovasi dan servis menjadi pilihan utama kontraktor atau developer dalam memilih semen instan.

PT Cipta Mortar Utama, perusahaan nasional pertama yang memproduksi semen instan siap pakai (premixed mortar), pun menyadari hal itu. Melalui produknya, Mortar Utama (MU), mereka berinovasi dengan mesin dan teknologi modern yang terintegrasi komputer untuk memberikan semen instan berkualitas bagi para pelaku industri properti.

Sesuai komitmennya untuk selalu membuat inovasi sebagai solusi layanan terbaik, mereka terus melakukan gebrakan dengan menciptakan material bangunan yang ramah lingkungan.

Secara garis besar, MU menawarkan empat solusi lengkap untuk konsumen, yakni: solusi perekat keramik, solusi dinding, solusi lantai serta solusi khusus dan perbaikan. Masing-masing rangkaian solusi tersebut terpecah jadi beberapa produk dengan fungsi spesifik. Total ada lebih dari 30 produk. Semen-Instan-mortar-utama-pabrik

"Aplikasi adukan semen tidak bisa digeneralisasi untuk setiap kebutuhan, perlu penyesuaian komposisi formulanya. Karena itu kami ciptakan produk dengan empat kategori tersebut,” tutur Anton Ginting, Marketing Director PT Cipta Mortar Utama.

Menurutnya, secara umum aplikasi produk-produk MU sangatlah mudah. Cukup dicampurkan dengan air, aduk, lalu pakai. "Dengan MU, campuran adukan semen menjadi lebih pasti," kata Anton. Proses pembuatannya sudah melalui tahap pre-mixed dengan teknologi tinggi yang secara konsisten memastikan kualitas produk.

Adanya tambahan aditif dalam formulasinya membuat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai keadaan optimum jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan semen konvensional. Perolehan sertifikat ISO 9001-2008 pada 2001 untuk sistem manajemen mutu menjadi pembuktian kualitas merek ini.

Selain itu, proyek-proyek besar seperti Pacific Place, Ciputra World, Grand Indonesia, Burj Khalifa (Dubai), dan Stadion Maracana (Brazil) yang menjadi referensinya juga menambah pamor produk tersebut. Penghargaan Top Brand untuk kategori produk semen instan pada 2013-2015 pun didapatkannya secara berturut-turut.

Yang jelas, MU bukan hanya menjual ‘no worry product’, tapi juga memberikan layanan bermutu kepada pengguna dengan serangkaian solusi inovatifnya. Simpel dan praktis.


Media Properti

Sunday, October 23, 2016

Semester 2016 : Kebangkitan Properti Dalam Negeri

Semester 2016 : Kebangkitan Properti Dalam Negeri
Pengamat Properti Ali Tranghanda memprediksi sektor properti di Tanah Air yang sempat melesu dalam beberapa tahun terakhir kini mulai bangkit pada semester II 2016. "Diperkirakan, akan ada turning point (titik balik) pada semester II/2016. Siklus properti sudah berada di titik paling bawah sehingga kemungkinan naiknya bakal lebih besar," kata Ali Tranghanda dalam diskusi bertajuk 'Potensi Dana Repatriasi Amnesti Pajak di Ranah Properti' di Jakarta, Kamis (22/9).

Menurut Ali Tranghanda, saat ini yang diperlukan ialah meningkatkan upaya optimisme sektor properti sehingga jangan sampai ada lagi pesimisme dalam aktivitas perekonomian penting secara nasional tersebut. Ali yang juga merupakan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch itu mengingatkan bahwa mulai kuartal II/2016 ada beragam stimulus yang diberikan pemerintah.

Ali mengemukakan kondisi demografi saat ini sangat mendukung karena banyak penduduk yang sedang berada dalam usia produktif serta sekitar 40% termasuk kelas menengah yang memiliki penghasilan sekitar Rp5 juta-Rp20 juta per bulan. "Jadi potensinya ada di sana," jelasnya. Namun, dia mengingatkan, karena ada amnesti pajak, banyak kelas menengah yang saat ini disibukkan dengan itu. Sementara itu, biasanya penjualan properti di akhir tahun agak sepi.

Sementara itu, pada awal 2017, masyarakat sepertinya disibukkan dengan pemilihan kepala daerah seperti pilkada DKI Jakarta, dan setelah pesta demokrasi itu, gairah di sektor properti diperkirakan akan muncul. Apalagi, Ali juga melihat, meski terlalu tinggi, tingkat suku bunga di sejumlah perbankan sudah mulai ada penurunan dan trennya ke bunga rendah, yang biasanya selanjutnya bakal diikuti peningkatan investasi.

Pada kesempatan yang sama, Managing Director Synthesis Square Julius Warouw menyatakan keyakinannya bahwa adanya dana repatriasi dari pengampunan pajak akan memperkuat modal pembangunan infrastruktur dan properti. "Modal yang kuat dari luar secara jangka panjang akan memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional sehingga dana yang masuk akan sangat bermanfaat.

Artinya, amnesti pajak harus menjadi momen kebangkitan perkonomian nasional dengan kebijakan terpadu di banyak dan semua lini, dengan tujuan penyerapan dana optimal," ujarnya.*


Media Properti Indonesia

Top Ad 728x90

Top Ad 728x90